MAMA MANDIKAN AKU SEKALI LAGI
(ilustrasi)
MAMA MANDIKAN AKU SEKALI LAGI
Dewi adalah sahabat saya, ia adalah seorang
mahasiswi yang berotak cemerlang dan memiliki idealisme yang tinggi.
Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya
sudah jelas: meraih yang terbaik di bidang akademis maupun profesi yang akan
digelutinya.
”Why not to be the best?,” begitu ucapan yang
kerap kali terdengar dari mulutnya, mengutip ucapan seorang mantan presiden
Amerika.
Ketika Kampus, mengirim mahasiswa untuk studi
Hukum Internasional di Universiteit Utrecht-Belanda, Dewi termasuk salah
satunya
Setelah menyelesaikan kuliahnya,
Dewi mendapat pendamping hidup yang ”selevel”; sama-sama berprestasi, meski
berbeda profesi. tak lama berselang lahirlah Bayu, buah cinta mereka, anak
pertamanya tersebut lahir ketika Dewi diangkat manjadi staf diplomat,
bertepatan dengan suaminya meraih PhD. Maka lengkaplah sudah kebahagiaan
mereka.
Ucapannya itu memang betul-betul
ia buktikan. Perawatan anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter
termahal. Dewi tinggal mengontrol jadwal Bayu lewat telepon. Pada akhirnya Bayu
tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas mandiri dan mudah mengerti.
Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan
kepada cucu semata wayang itu, tentang betapa hebatnya ibu-bapaknya. Tentang
gelar Phd. dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang
berlimpah. “Contohlah ayah-bundamu Bayu, kalau Bayu besar nanti jadilah seperti
Bunda”. Begitu selalu nenek Bayu, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya.
Ketika Bayu berusia 5 tahun, neneknya
menyampaikan kepada Dewi kalau Bayu minta seorang adik untuk bisa menjadi teman
bermainnya dirumah apa bila ia merasa kesepian.
Terkejut dengan permintaan tak terduga itu,
Dewi dan suaminya kembali meminta pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum
memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Bayu. Lagi-lagi bocah kecil
inipun mau ”memahami” orangtuanya.
Dengan Bangga Dewi mengatakan bahwa kamu
memang anak hebat, buktinya, kata Dewi, kamu tak lagi merengek minta adik.
Bayu, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek dan sangat
mandiri. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek.
Bahkan, tutur Dewi pada saya , Bayu selalu menyambut kedatangannya dengan penuh
ceria. Maka, Dewi sering memanggilnya malaikat kecilku.
Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya.
Meski kedua orangtuanya super sibuk, namun Bayu tetap tumbuh dengan penuh cinta
dari orang tuanya. Diam-diam, saya jadi sangat iri pada keluarga ini.
Suatu hari, menjelang Dewi berangkat ke
kantor, entah mengapa Bayu menolak dimandikan oleh baby sitternya. Bayu ingin
pagi ini dimandikan oleh Bundanya,” Bunda aku ingin mandi sama
bunda…please…please bunda”, pinta Bayu dengan mengiba-iba penuh harap.
Karuan saja Dewi, yang detik demi detik
waktunya sangat diperhitungkan merasa gusar dengan permintaan anaknya. Ia
dengan tegas menolak permintaan Bayu, sambil tetap gesit berdandan dan
mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Bayu agar mau
mandi dengan baby sitternya. Lagi-lagi, Bayu dengan penuh pengertian mau
menurutinya, meski wajahnya cemberut.
Peristiwa ini terus berulang sampai hampir
sepekan. “Bunda, mandikan aku !” Ayo dong bunda mandikan aku sekali ini saja…?”
kian lama suara Bayu semakin penuh tekanan. Tapi toh, Dewi dan suaminya
berpikir, mungkin itu karena Bayu sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak
lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Bayu bisa ditinggal juga
dan mandi bersama Mbanya
Ketika Bayu, berusia 6 bulan, kesibukan Dewi
semakin menggila. Bak seekor burung garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari
satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain. Sebagai seorang
sahabat setulusnya saya pernah bertanya padanya, “Tidakkah si Bayu masih
terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal oleh ibundanya ?” Dengan sigap Dewi
menjawab, “Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya dengan sempurna”.
“Everything is OK !, Don’t worry Everything is under control kok !” begitulah
selalu ucapannya, penuh percaya diri.
Sampai suatu sore, Dewi dikejutkan
oleh telpon dari sang baby sitter, “Bu, hari ini Bayu panas tinggi dan
kejang-kejang. Sekarang sedang di periksa di Ruang Emergency”.
Dewi, ketika diberi tahu soal Bayu, sedang
meresmikan kantor barunya di Medan. Setelah tiba di Jakarta, Dewi langsung
ngebut ke UGD. Tapi sayang… terlambat sudah…Tuhan sudah punya rencana lain.
Bayu, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh Tuhannya..
Terlihat Dewi mengalami shock berat. Setibanya
di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah untuk memandikan putranya, setelah
bebarapa hari lalu Bayu mulai menuntut ia untuk memandikannya, Dewi pernah
berjanji pada anaknya untuk suatu saat memandikannya sendiri jika ia tidak
sedang ada urusan yang sangat penting. Dan siang itu, janji Dewi akhirnya
terpenuhi juga, meskipun setelah tubuh si kecil terbujur kaku.
Ditengah para tetangga yang sedang melayat,
terdengar suara Dewi dengan nada yang bergetar berkata “Ini Bunda Nak…., Hari
ini Bunda mandikan Bayu ya…sayang….! akhirnya Bunda penuhi juga janji Bunda ya
Nak..” . Lalu segera saja satu demi satu orang-orang yang melayat dan berada di
dekatnya tersebut berusaha untuk menyingkir dari sampingnya, sambil tak kuasa
untuk menahan tangis mereka.
Ketika tanah merah telah mengubur jasad si
kecil, para pengiring jenazah masih berdiri mematung di sisi pusara sang
Malaikat Kecil. . Berkali-kali Dewi, sahabatku yang tegar itu, berkata kepada
rekan-rekan disekitanya, “Inikan sudah takdir, ya kan..!” Sama saja, aku di
sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya di panggil, ya dia
pergi juga, iya kan?”.
Saya yang saat itu tepat berada di sampingnya
diam saja. Seolah-olah Dewi tak merasa berduka dengan kepergian anaknya dan
sepertinya ia juga tidak perlu hiburan dari orang lain.
Sementara di sebelah kanannya, Suaminya berdiri
mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pucat pasi dengan bibir bergetar tak
kuasa menahan air mata yang mulai meleleh membasahi pipinya.
Sambil menatap pusara anaknya, terdengar lagi
suara Dewi berujar, “Inilah konsekuensi sebuah pilihan!” lanjut Dewi, tetap
mencoba untuk tegar dan kuat.
Angin senja meniupkan aroma bunga
kamboja yang menusuk hidung hingga ke tulang sumsum. Tak lama setelah itu tanpa
di duga-duga tiba-tiba saja Dewi jatuh berlutut, lalu membantingkan dirinya ke
tanah tepat diatas pusara anaknya sambil berteriak-teriak histeris. “Bayu
maafkan Bunda ya sayaang..!!, ampuni bundamu ya nak…? serunya berulang-ulang
sambil membenturkan kepalanya ketanah, dan segera terdengar tangis yang
meledak-ledak dengan penuh berurai air mata membanjiri tanah pusara putra
tercintanya yang kini telah pergi untuk selama-lamanya.
Sepanjang persahabatan kami, rasanya baru kali
ini saya menyaksikan Dewi menangis dengan histeris seperti ini.
Lalu terdengar lagi Dewi berteriak-teriak
histeris “Bangunlah Bayu sayaaangku….Bangun Bayu cintaku, ayo bangun nak…..?!?”
pintanya berulang-ulang, “Bunda mau mandikan kamu sayang…. Tolong Beri
kesempatan Bunda sekali saja Nak…. Sekali ini saja, Bayu.. anakku…?” Dewi
merintih mengiba-iba sambil kembali membenturkan kepalanya berkali-kali ke
tanah lalu ia peluki dan ciumi pusara anaknya bak orang yang sudah hilang
ingatan. Air matanya mengalir semakin deras membanjiri tanah merah yang
menaungi jasad Bayu.
Senja semakin senyap, aroma bunga kamboja
semakin tercium kuat manusuk hidung membuat seluruh bulu kuduk kami berdiri
menyaksikan peristiwa yang menyayat hati ini…tapi apa hendak di kata, nasi
sudah menjadi bubur, sesal kemudian tak berguna.
Bayu tidak pernah mengetahui bagaimana rasanya
dimandikan oleh orang tuanya karena mereka merasa bahwa banyak hal yang jauh
lebih penting dari pada hanya sekedar memandikan seorang anak.
Semoga kisah ini bisa menjadi
pelajaran berharga bagi kita semua para orang tua yang sering merasa hebat dan
penting dengan segala kesibukannya.
(sebuah sharing yang disharekan kembali)
thank's 4 your love, simbok...


Comments